INFO BUDAYA

Rabu, 18 September 2019

Keluarga Miskin di Kota Solok Tinggal 0,98 Persen, PE Capai 5,85 Persen


Rumah Tangga Miskin di Kota Solok Tinggal 0,98 Persen
Pertumbuhan Ekonomi Kota Solok 5,85 Persen


Walikota dan Wakil Walikota Solok, Zul Elfian Dt Tianso dan Reinier Dt Mangkuto Alam tahun 2018 lalu, pernah menegaskan Pemko Solok tidak akan mengganti atau membeli mobil dinas baru, jika jumlah rumah tangga miskin di Kota Solok belum mencapai angka di bawah 1 persen. Penegasan itu, memantik seluruh aparatur Pemko Solok bergerak cepat. Bukan untuk berharap mobil dinas baru, tapi penegasan Zul Elfian Reinier tersebut menjadi sindiran bagi seluruh aparatur di Kota Beras Serambi Madinah (julukan Kota Solok), bahwa sebagai pelayan masyarakat, ASN dituntut untuk bekerja keras. Hasilnya, beberapa waktu lalu, data dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), jumlah keluarga miskin di Kota Solok menyentuh angka 0,98 persen.


KEMISKINAN, merupakan masalah global yang terjadi di seluruh belahan dunia. Di negara-negara maju sekalipun, kemiskinan tetap ada, apalagi di Indonesia, atau Sumatera Barat sebagai daerah berkembang. Pemberantasan kemiskinan dilakukan dengan dua pola, yakni dari lapisan masyarakat bawah, dan dari kebijakan pemerintahan yang pro kesejahteraan rakyat. Meski begitu, sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif. Sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan sebagian lagi memahaminya dari sudut ilmiah dari kemapanan.

Pada zaman dahulu kala, kemiskinan dipandang sebagai kondisi kurangnya materi. Seperti kurang makanan, kurangnya pakaian, dan perumahan yang kurang layak. Di masa kini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, kesehatan, dan hak-hak dasar sebagai warga negara.

Hal ini disadari betul oleh duet Zul Elfian-Reinier yang diberi amanah oleh masyarakat memimpin Kota Solok periode 2016-2021. Tentu, sebagai orang yang diberikan amanah, Zul Elfian-Reinier diharapkan masyarakat untuk membawa Kota Solok menjadi lebih baik, lebih maju, lebih berkembang dan menjadi duet yang penuh dengan terobosan.

Di awal kepemimpinannya, duet tersebut, dihadapkan kenyataan bahwa kesejahteraan di Kota Solok masih "bermasalah". Data dari Pemutakhiran Basis Data Terpadu (PBDT) tahun 2015 dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), keluarga miskin di Kota Solok berjumlah 859 KK atau 4.333 jiwa dari jumlah penduduk 65.157 jiwa. Artinya, jumlah keluarga miskin di Kota Solok sebesar 6,6 persen.

Menyadari hal ini, Zul Elfian-Reinier, langsung tancap gas. Meski upaya penanggulangan kemiskinan pada hakekatnya merupakan upaya bersama dari semua pemangku kepentingan, namun duet tersebut tetap bekerja sesuai langkah awal. Penanggulangan kemiskinan memang tidak seperti membalik telapak tangan. Tidak semudah diucapkan, dan selalu saja ada kendala, serta tudingan sinis dari berbagai pihak. Zul Elfian-Reinier menyadari dibutuhkan sinergi dan kemitraan dengan semua pihak. Kemiskinan yang disepakati sebagai masalah, harus dituntaskan secara bersama-sama dan komitmen untuk saling berpacu.

Sejak tahun 2016 hingga 2018, Pemko Solok di era kepemimpinan Zul Elfian dan Reinier, melakukan berbagai langkah berani dan tidak populer. Yakni penerapan sejumlah kebijakan untuk melakukan intervensi penanggulangan kemiskinan yang terintegrasi. Bahkan, intervensi tersebut dilakukan hingga ke dalam rumah tangga warga Kota Solok. Hal itu, merujuk pada penyebab kemiskinan itu sendiri. Di antaranya, mengubah sejumlah kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang membuat mereka menjadi miskin. Seperti malas bangun pagi, suka berjudi, terlibat Narkoba, hingga kebiasaan-kebiasaan kecil seperti merokok. Pendekatan personal ke masyarakat, dilakukan dengan langsung datang dan naik ke atas rumah warga.

Tindakan ini, sempat menjadi polemik, karena Pemko Solok dinilai sudah ikut mencampuri urusan rumah tangga warganya. Namun, dengan latar belakang Zul Elfian yang seorang "Buya", dan Reinier Dt Mangkuto Alam sebagai datuk di Kota Solok, keduanya melakukan pendekatan halus, sesuai perannya masing-masing. Dengan jargon Kota Beras Serambi Madinah, Zul Elfian dan Reinier melakukan pendekatan agama dan secara adat. Hasilnya, sejumlah terobosan lahir, di antaranya program Subuh Berjamaah, Maghrib Mengaji, Baitul Mal wat Tamwil (BMT), insentif bagi warga yang bisa berhenti merokok, dan sejumlah program-program lainnya.

Jika dirunut ke belakang, upaya Pemko Solok dalam menekan angka kemiskinan memang tidak mudah. Pembangunan berbagai sektor kehidupan masyarakat terus menjadi fokus dan menjadi sebuah komitmen yang kuat. Bagi Zul Elfian dan Reinier, dalam menanggulangi kemiskinan fokus utama adalah menciptakan masyarakat yang mandiri secara ekonomi dan karakter. Sehingga membangun mental masyarakat melalui program keagamaan dan adat serta pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM).

Dalam upaya memenuhi kebutuhan dasar warga kota secara layak, Zul Elfian bersama Reinier terus menggenjot aparatur pemerintah dalam memberikan pelayanan yang baik pada masyarakat. Bahkan penurunan angka kemiskinan dijadikannya sebagai salah satu indikator dalam mengukur keberhasilan program pemerintahan yang telah dijalankan oleh masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang ada di lingkungan Pemko Solok. Artinya pembangunan yang dilakukan harus mampu memberikan efek positif terhadap perekonomian masyarakat.

Strategi yang dilakukan Pemko Solok untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk miskin di Kota Solok, dilakukan dengan memperbaiki akses masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar, meliputi pendidikan, kesehatan, air bersih dan sanitasi. Kemudian, mengoptimalkan layanan pendidikan bagi keluarga miskin berprestasi, meningkatkan peran serta masyarakat dalam pendidikan non formal, perbaikan pelayaan kesehatan bagi ibu hamil pasca melahirkan dan masyarakat miskin serta perbaikan rumah tidak layak huni pun terus didorong.

Kebijakan yang diterapkan Pemko Solok dalam penanganan kemiskinan baru menunjukkan hasil. Di akhir tahun 2018 dilakukan verifikasi dan validasi lapangan oleh Dinas Sosial Kota Solok. Hasilnya, terjadi penurunan jumlah keluarga miskin di Kota Solok. Angkanya, menunjukan angka di bawah 1 persen yakni sebesar 0,98 persen. Artinya jumlah masyarakat kurang mampu di Kota Solok sebanyak 147 KK dengan 720 jiwa dari jumlah penduduk 73.614 jiwa.

Pertumbuhan ekonomi Kota Solok memiliki tren yang positif. Pada tahun 2016, pertumbuhan ekonomi Kota Solok tercatat sebesar 5,76 persen dan terus meningkat menjadi 5,85 persen pada tahun 2018. Pertumbuhan tiap tahunnya memang relatif kecil karena dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

Di sisi lain, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang merupakan variabel yang mencerminkan tingkat pencapaian kesejahteraan penduduk sebagai akibat dari perluasan akses layanan dasar di bidang pendidikan dan kesehatan juga meningkat. IPM sebagai alat ukur tingkat pencapaian pembangunan manusia merupakan indeks gabungan dari tiga komponen yang mengindikasikan kualitas sumber daya manusia.

Pada tahun 2017 terjadi peningkatan nilai IPM di Kota Solok, dimana pada tahun 2016 nilai IPM Kota Solok sebesar 77,07 meningkat menjadi 77,44 pada tahun 2017. Untuk tahun 2018 data untuk Indeks Pembangunan Manusia sampai publikasi ini diterbitkan belum dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik sebagai penyedia data.

Capaian tahun 2018 untuk rata-rata lama sekolah diperoleh angka sebesar 16,18 artinya rata-rata penduduk kota Solok telah mencapai tamat tingkat 2 SLTA, sedangkan rata-rata hasil perolehan nilai Ujian Nasional (UN) untuk Sekolah Dasar dengan 53,5 artinya dari 42 sekolah SD yang ada di Kota Solok yang nilai rata-rata UN perolehannya telah mencapai 7,7 sebesar 26 SD sedangkan untuk SMP capaian Nilai UN adalah 0 (nol) artinya dari semua 7 sekolah SMP yang ada di Kota Solok nilai rata-rata UN belum ada yang mencapai nilai 6 (enam).

"Komitmen kita jelas. Masing-masing dinas atau OPD terkait harus mampu berkontribusi positif dalam mengangkat derajat kesejahteraan masyarakat. Selanjutnya, masing-masing dinas harus mengevaluasi kinerjanya, sehingga memiliki acuan untuk program ke depan. Saya merasa sangat beruntung memiliki seorang wakil seperti Pak Reinier, yang selalu mendukung penuh setiap program yang dijalankan," ujar Zul Elfian Dt Tianso

"Dari awal, niat kami maju adalah komitmen untuk berbakti ke Kota Solok. Sehingga, seluruh warga Kota Solok dan daerah Kota Solok di seluruh aspek, bisa lebih baik ke depannya. Kami juga mengucapkan terima kasih yang tidak terkira kepada seluruh aparatur Pemko Solok, DPRD Kota Solok, stake holder, dan seluruh elemen masyarakat yang selalu mendukung penuh setiap program kami. Mari terus kita jaga komitmen untuk sama-sama berkontribusi positif untuk kemajuan Kota Solok ke depannya," ujar Reinier Dt Mangkuto Alam. (*/IN-001)

Minggu, 15 September 2019

F-Kuwas: Pemkab Solok Lemah dalam Sosialisasi Tour de Singkarak 2019


SOLOK - Meski iven balap sepeda Tour de Singkarak (TdS) 2019 hanya tinggal hitungan pekan, namun gebyar dan sosialisasi dari Pemkab Solok sangat minim. Sejumlah elemen masyarakat di Kabupaten Solok, mulai mengeluhkan minimnya sosialisasi iven sport tourism terbesar di Sumbar tersebut. Bahkan sejumlah wartawan di Kabupaten Solok dan Kota Solok, merasa seakan ditinggalkan jelang gelaran iven. Hal itu terbukti, dengan bel adanya pertemuan antara Pemkab Solok dengan insan pers di Solok, membahas sosialisasi TdS 2019.



Ketua Forum Komunikasi Wartawan Solok (F-Kuwas), Raunis Natase, menyatakan peran Pemerintah Kabupaten Solok melalui Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud) Kabupaten Solok dalam gebyar TdS 2019 sangat minim. Menurut pria yang akrab disapa Roni Natase tersebut, menyebutkan, masyarakat Kabupaten Solok dan Kota Solok baru tahu TdS saat media di Kabupaten Solok dan media nasional menghebohkan TdS 2019 tidak melewati kawasan Singkarak.

"Kabupaten Solok adalah rumahnya Tour de Singkarak. Ikon tersebut harus abadi di sini. Pemkab Solok lemah dalam sosialisasi. Seolah-olah tidak memandang ini sebagai ajang internasional. Padahal tujuan awal TdS adalah untuk memperkenalkan pariwisata di Kabupaten Solok dan Sumbar. Masyarakat bisa melihat sendiri saat ini, iven hanya tinggal hitungan minggu, namun tidak ada sosialisasi berupa spanduk, umbul-umbul, baliho dan iven pendukung TdS. Bahkan, Pemkab Solok belum sekalipun bertemu dengan insan pers Kabupaten Solok membahas TdS ini. Baik secara formal maupun informal. Seolah-olah TdS 2019 ini tidak ada atau sekadar numpang lewat," ungkapnya.

Lebih lanjut, Roni Natase menyebutkan, sejak iven perdana pada 2009, Kabupaten Solok tidak pernah absen. Bahkan di iven perdana itu, Dermaga Singkarak menjadi tempat start sekaligus finish etape pamungkas. Di saat itu, menurut Roni, di Kabupaten Solok digelar sangat banyak iven yang membuat daerah saat itu sangat ramai. Salah satunya iven Featival Singkarak Danau Kembar (FSDK) yang saat itu mampu memecahkan dua rekor MURI.

"Sangat miris dan sangat disayangkan. Saat ini, gebyar TdS meredup dengan kurangnya sosialisasi dari Pemkab Solok. Contoh kecil saja, berapa banyak masyarakat Solok yang tahu, bahwa logo Tour de Singkarak sudah berubah tahun ini?," ungkapnya.



Gelaran TdS 2019 merupakan kali ke-11 di Sumbar, beberapa waktu lalu menjadi berita heboh. Pasalnya, dari jadwal dan rute sementara yang dikeluarkan Panpel, tidak satupun rute yang melintasi kawasan Danau Singkarak. Bahkan dari 9 etape yang direncanakan, Kabupaten Solok sebagai salah satu penggagas TdS, hanya kebagian secuil rute. Yakni etape VI dari Arosuka ke Muaro Labuh. Setelah jadwal dan rute tersebar luas, Dinas Pariwisata Sumbar dan Pemkab Solok jadi saling tuding.

Awalnya, Kepala Dinas Pariwisata Sumbar, Oni Yulfian, menyebutkan bahwa Etape VI Tour de Singkarak 2019, yang menurut rencana start di Kabupaten Solok dan finish di Kabupaten Solok Selatan, adalah usulan dari Pemkab Solok. Yakni mengusulkan pemindahan start, dari semula di Dermaga Singkarak ke Taman Hutan Kota Wisata (THKW) Arosuka. Akibat pemindahan titik start, kawasan Danau Singkarak tidak dilewati pebalap. Karena jika harus mengitari Danau Singkarak, jarak lintasan menyentuh angka 250 kilometer ke Solok Selatan.

Hal ini ditanggapi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Solok Saiyo Sakato (S3) dan Bupati Solok Gusmal Dt Rajo Lelo. Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Solok Saiyo Sakato, Eddie Moeras, menegaskan tidak benar rute TdS 2019 yang tidak melintasi kawasan Singkarak, adalah permintaan dari Bupati Solok, Gusmal Dt Rajo Lelo. Menurut Eddie Moeras dalam rilisnya, permintaan start TdS 2019 di Arosuka sudah benar, sekaligus untuk memperkenalkan ibu kota Kabupaten Solok ke nasional maupun mancanegara.

"Untuk itu sekiranya ada rute yang dipersingkat sehingga tidak melebihi batas pebalap sepeda, namun tidak menghilangkan rute melewati Danau Singkarak sebagai ikon pariwisata Kabupaten Solok khususnya dan Sumbar umumnya. Namanya juga Tour de Singkarak, masa tidak melewati Danau Singkarak ya," ujarnya.

Sementara itu, Bupati Solok Gusmal Dt Rajo Lelo melalui Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Solok, Nasripul Romika, membantah kalau bupati Solok yang meminta pemindahan rute TdS. Nasripul menjelaskan bahwa Pemkab Solok memang meminta agar lokasi start di Kabupaten Solok dilakukan di Taman Hutan Kota Wisata (THKW) di Arosuka.

"Jadi bukan meminta agar jangan lewat Singkarak. Tapi kita meminta agar start etape di THKW. Tawaran itu, ditujukan agar Arosuka lebih dikenal masyarakat luas," kata Nasripul, melalui selulernya, Selasa (10/8).

Nasripul juga menegaskan bahwa survey rute TdS dilakukam sepenuhnya oleh tim Union Cycliste Internationale (UCI. Nasripul yang merupakan Kabag Humas Pemkab Solok saat TdS perdana pada 2009, menyatakan tim UCI telah melakukan dua kali survey. Dari berbagai pertimbangan, tim UCI menurutnya mendukung usulan supaya Arosuka dijadikan lokasi start. (rijal islamy)

Rabu, 04 September 2019

JMS, Pembentukan Karakter Anak Bangsa dari Pemahaman Hukum Sejak Dini


Jaksa Masuk Sekolah di MTsN 3 Solok
* Pembentukan Karakter Anak Bangsa dari Pemahaman Hukum Sejak Dini

SOLOK - Sebanyak 7 orang jaksa dari Cabang Kejaksaan Negeri Solok di Alahan Panjang, mendatangi Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Solok, Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Rabu (4/9). Kedatangan rombongan dipimpin langsung Kacabjari Alahan Panjang, Okta Zulfitri, SH, bersama sejumlah jaksa lainnya seperti Diana, Fadhila, Hengki dan sejumlah jaksa di Cabjari Alahan Panjang lainnya. Rombongan diterima oleh Plt Kepala MTsN 3 Solok, Risfanelti, S.Pd, Waka Kesiswaan Irwan K Sumantri, Pembina UKS Anton Prabowo, Kepala TU Elwandi Nur, pengurus inti Organisasi Intra Madrasah (OSIM), dan utusan dari masing-masing kelas di MTsN 3 Solok.

Setibanya di MTsN 3 Solok, usai beramah-tamah dengan pihak madrasah, para jaksa tersebut berdiri di depan kelas, mengajar! Materi pelajaran yang diberikan berupa ilmu hukum kepada para siswa. Yakni pemahaman tentang bahaya dan pemberantasan korupsi, pencegahan perundungan (bullying), bahaya Narkoba, hingga pencegahan kenakalan remaja.

Kacabjari Alahan Panjang, Okta Zulfitri, SH, saat memberikan penyuluhan hukum ke siswa-siswi MTsN 3 Alahan Panjang, Rabu (4/9).

Penampakan jaksa di madrasah setingkat SLTP tersebut memang benar adanya. Para jaksa saat ini memang diwajibkan datang dan mengajar di sekolah melalui program Jaksa Masuk Sekolah (JMS) yang digagas Kejaksaan Agung RI. Program ini digelar untuk menumbuhkembangkan kesadaran hukum bagi masyarakat secara umum dan pelajar secara khusus. Dan para pelajar memang seharusnya mendapat ilmu hukum sejak dini.

"Program ini bertujuan untuk mengenalkan produk hukum seperti undang-undang serta mengenal keakraban lembaga Kejaksaan dan tupoksinya di kalangan pelajar khususnya pelajar SMP dan MTs," ujar Kacabjari Alahan Panjang, Okta Zulfitri, SH.

Okta menjelaskan, di samping fungsi penegakan hukum, kejaksaan juga melakukan fungsi preventif yakni mencegah terjadinya kejahatan dengan melakukan penerangan hukum.

"Program JMS ini merupakan program pemerintah pusat yang dicanangkan di seluruh wilayah Indonesia, yang harus diterapkan secara intensif," tegas Okta.

Para Jaksa dari Cabang Kejaksaan Negeri Solok di Alahan Panjang, saat memberikan penyuluhan hukum ke siswa-siswi MTsN 3 Alahan Panjang, Rabu (4/9).

Plt Kepala MTsN 3 Solok, Risfanelti, S.Pd, sangat mengapresiasi adanya program JMS tersebut. Menurutnya, dengan pemahaman hukum sejak dini, akan membantu proses pembentukan karakter anak bangsa yang berbasis hukum.

"Insyaallah, dengan memahami dan menaati hukum, anak bangsa ini akan menjadi anak yang berprestasi dan membanggakan serta bisa diharapkan menjadi pemimpin-pemimpin masa depan," ujarnya. (IN-001)

Sabtu, 24 Agustus 2019

Tari Saman Yonarmed 1 Kostrad Meriahkan Gebyar Merah Putih di Kampung Tentara

Tari Saman Yonarmed 1 Kostrad Meriahkan Gebyar Merah Putih di Kampung Tentara

INFONEWS.CO.ID ■ Batalyon Artileri Medan (Yonarmed) 1 Roket Kostrad mempersembahkan tari saman dalam acara Gebyar Merah Putih dalam rangka memperingati HUT ke-74 RI yang dilaksanakan di Kampung Tentara Rest Area Divif 2 Kostrad yang disaksikan oleh Pangdivif 2 Kostrad, Mayjen TNI Tri Yuniarto, S.AP., M.Si., M.Tr (Han) beserta para pejabat Divif 2 Kostrad dan warga Malang Raya.

Tari Saman adalah sebuah tarian Suku Gayo yang biasa ditampilkan untuk merayakan peristiwa-peristiwa penting dalam adat. Syair dalam tarian saman mempergunakan bahasa Gayo. Selain itu, biasanya tarian ini juga ditampilkan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam beberapa literatur menyebutkan tari saman di Aceh didirikan dan dikembangkan oleh Syekh Saman, seorang ulama yang berasal dari Gayo di Aceh Tenggara.

Komandan Resimen Artileri Medan (Danmenared) 1 Kostrad Letkol Arm Didik Harmono mengatakan, bahwa tari saman merupakan tarian yang sangat membutuhkan kerjasama antara tim. Tarian ini biasa dimainkan sebagai tempat menyampaikan nasihat, pesan atau dakwah. 

“Tarian ini juga menggambarkan tentang keagamaan, pendidikan, sopan santun, kepahlawanan, kebersamaan dan kekompakan,” ujar Danmenarmed 1Kostrad.

Pakaian atau kostum yang digunakan oleh para penari yaitu menggunakan pakaian adat yang umumnya berwarna cerah dengan hiasan di bagian kepala. Terdapat 3 bagian kostum yang digunakan, yaitu bagian kepala berupa bulung teleng, di badan melekat baju kerawang, cela, dan kain sarung atau jarik. Selain itu di bagian tangan ada topeng gelang dan sapu tangan.

“Keseragaman dan keserasian antara pemain adalah hal penting dalam menampilkan tarian ini. Oleh karena itu pemain dituntut untuk berkonsentrasi penuh dan latihan yang serius agar dapat menghasilkan tarian yang indah dan membuat takjub siapa saja yang melihatnya,” tambah Letkol Arm Didik Harmono.

“Tentunya bukan hanya tugas dari orang Aceh saja yang harus melestarikan kesenian ini, akan tetapi menjadi tugas kita bersama sebagai warga negara Indonesia untuk melestarikan budaya seni tari saman ini. Selamat Memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74. MERDEKA !!!!.” Pungkas Danmenarmed1 Kostrad.

■ R-01/IT/Penkostrad

Kamis, 22 Agustus 2019

Bentuk Generasi Sehat, Persit Yonarmed 12 Kostrad Gelar Posyandu


INFONEWS.CO.ID ■ Sambil menggendong anak, tampak puluhan ibu-ibu Persit Kartika Chandra Kirana ranting 4 Yonarmed 12 Kostrad mendatangi BKIA Posyandu Kemuning Yonarmed 12 Kostrad. Bukan tanpa alasan, antusias dan semangat ibu-ibu tersebut dipicu dengan adanya kegiatan pelayanan Posyandu  bagi keluarga prajurit, Ngawi, Rabu (21/8/2019).

Secara bergilir, para ibu-ibu dengan penuh semangat mulai mengikuti semua tahapan layanan Posyandu yang telah disediakan. Tidak jarang terdengar tangisan serta polah tingkah lucu anak-anak menambah semaraknya kegiatan Posyandu pagi ini.

Ketua seksi sosial Ny. Erna Sunardi mengatakan, bahwa kegiatan tersebut bertujuan untuk menjaga kesehatan dan memberikan pelayanan penuh khususnya anak batita, balita dan ibu-ibu yang sedang mengandung maupun menyusui.

Sementara itu, Ketua Persit KCK Yonarmed 12 Kostrad  Ny. Naya Siwabessy menjelaskan bahwa kegiatan Posyandu merupakan program rutin Persit Kartika Candra Kirana Ranting 4 Yonarmed 12 Kostrad yang  dilaksanakan setiap sebulan sekali.

“Tidak hanya penyuluhan mengenai kesehatan, penimbangan dan pengukuran perkembangan tumbuh kembang Batita dan Balita serta pemberian PMT (makanan tambahan) seperti program biasa semata,” ungkapnya.

“Kegiatan Posyandu kali ini, kita manfaatkan untuk memberikan tambahan vitamin A (anak usia 6 bulan sampai 5 tahun), serta pemberian obat cacing (anak usia 1 sampai 5 tahun),” tambahnya.

Kegiatan Posyandu ini merupakan wujud kepedulian Persit melalui para kader Posyandu dalam rangka memelihara serta menjaga kesehatan anak Batita, Balita dan ibu- ibu yang sedang mengandung maupun menyusui.

Bukan hanya itu, Ketua Persit Yonarmed 12 Kostrad tersebut menambahkan Posyandu ini merupakan salah satu upaya Persit KCK Ranting 4 Yonarmed 12 Kostrad dalam rangka menciptakan generasi muda yang sehat, cerdas dan mandiri.

“Generasi muda yang sehat, cerdas dan mandiri merupakan pondasi awal kemajuan suatu bangsa,” pungkasnya.

■ R-01/IT/Penkostrad

Kamis, 15 Agustus 2019

HUT RI Dimata Pakar, Ja'far: Semangat Proklamasi Harus Selaras Dengan Semangat Menjaga Kesehatan

HUT RI Dimata Pakar, Ja'far: Semangat Proklamasi Harus Selaras Dengan Semangat Menjaga Kesehatan

INFONEWS.CO.ID ■ Satu hari jelang perayaan Hari Kemerdekaan RI, rakyat Indonesia diberbagai pelosok tanah air kini telah mengagendakan sejumlah acara guna  memperingati hari bersejarah itu.

Berbagai aneka lomba biasanya digelar untuk perayaan hari kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 2019 ini.

Demikian juga di Istana negara, momen seperti ini biasa digunakan untuk mengundang sejumlah orang-orang penting, utamanya putra putri terbaik Indonesia untuk berkumpul, bersilahturahmi sekaligus merupakan bentuk rasa syukur kita dan untuk mengenang jasa-jasa pahlawan yang telah merebut kemerdekaan Indonesia dari penjajah.

Dulu, masyarakat Indonesia merayakan kemerdekaan dengan menggelar upacara bendera dan membaca teks proklamasi dengan khidmat.

Selain meneruskan tradisi tersebut, zaman sekarang masyarakat Indonesia menambahkan perayaan hari jadi negeri ini dengan berbagai permainan seru, seperti panjat pinang, lomba menangkap belut, dan lain-lain.

Terkait hal ini, tokoh muda dan ilmuwan Muhammad Ja'far Hasibuan mengaku tak diundang ke Istana, meski namanya telah mengharumkan Indonesia di dunia Internasional berkat penemuan Obat Kulit Bagi Manusia dan Hewan Luar dan Dalam.

"Belum, dan tidak ada undangan ke Istana. Mungkin panitia dan Presiden sedang sibuk. Its okey, tidak apa-apa, kita juga sedang persiapan untuk riset obat tradisional," kata Muhammad Ja’far Hasibuan (27), kepada Kantor Berita JBN, hari ini, (15/08).

Meski demikian, Ja'far kini mengaku juga sibuk guna mengembangkan hasil temuannya itu. Pasca dinobatkan sebagai juara dunia di shanghai, China, Ia terus mendalami dan melakukan internal riset, utamanya terkait Penyembuhan Kanker.

Dalam kesempatan ini, Ja'far hanya ingin berpesan bahwa momen penting dalam perayaan HUT RI patut juga diselipi semangat menjaga kesehatan, yang merupakan modal utama agar rakyat juga merdeka lahir dan banthin.

"Saat ini penting diingatkan, bahwa semangat Proklamasi harus juga diselaraskan dengan semangat menjaga kesehatan bagi rakyatnya. Bagaimana negara bisa maju kalau rakyatnya sakit?," ujarnya.

Sebelumnya, Ja'far berhasil menggoncangkan dunia internasional lewat penemuannya yang spektakuler yakni, Obat Kulit Bagi Manusia dan Hewan Luar dan Dalam.

Dia berhasil memenangkan kompetisi di China Shanghai International Exhibition of Inventions (CSITF) dan WIIPA Special Award World Invention Intelectual Property Association.

Atas prestasi ini, Ja'far menyumbangkan medali emas dan WIIPA Special Award bagi Indonesia.

Penghargaan sebagai no.1 dunia menjadi makna tersendiri jelang HUT RI, Sontak saja namanya kemudian viral diberbagai media cetak, online bahkan Youtube.

Atas torehannya ini ia menjadi orang pertama di Asia yang dapat penghargaan dunia pada Pameran Teknologi Internasional China, Shanghai dan selanjutnya disebut CSITF), disetujui oleh dewan Negara yang diselenggarakan bersama oleh Kementerian Perdagangan, Kementerian Sains dan Teknologi, Kantor Kekayaan Intelektual Negara dan Pemerintah Kota Shanghai.

Kegiatan ini didukung juga oleh lembaga PBB seperti UNIDO, UNDP dan WIPO, dan diselenggarakan oleh Kamar Dagang China untuk Impor dan Ekspor Mesin dan Produk Elektronik, Pusat Pertukaran Teknologi Internasional Shanghai dan Donghao Lansheng (Group) Co, Ltd, adalah profesional tingkat nasional khusus untuk perdagangan teknologi internasional.

Selama di China ia diseleksi cukup ketat dari WIIPA dan kompetisi yang diikutinya dengan tema “Biofar Shirmp Skin Care”. Inovasi ini merupakan penemuan di bidang kesehatan yang teruji mengubah dari bahan alami menjadi obat kulit luar dan dalam pada manusia dan hewan.

Dalam kegiatan tersebut, Ja’far menjadi satu-satunya orang Asia di level dunia mendapat medali emas pertama dari CSITF dan WIIPA.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies (P3S) Jerry Massie mengatakan apa yang diraih oleh Ja’far Hasibuan berkat kerja keras, ketekunan dan pantang menyerah.

Dia (Ja’far,red) kata Jerry, merupakan penerus Prof BJ Habibie, semoga akan lahir para cendikiawan muda berbakat. Dia juara 1 nasional sebanyak 19 kali, 2 kali juara Asean dan 1 kali juara dunia.

“Ini prestasi bagi bangsa yang di raih seorang anak yatim dan tulang punggung keluarga. Orang berprestasi seperti Jafar perlu diperhatikan oleh pemerintah,” ujar dia.

Menurut Jerry pemerintah harus membantu memfasilitasi anak-anak bangsa yang berprestasi. Saya sarankan kalau bisa di undang di istana dan pada perayaan HUT RI 17 Agustus 2019. Selama ini sudah banyak yang diundang presiden anak punya talenta tingkat dunia ini pun setidaknya bisa diundang.

“Indonesia bisa patenkan hak cipta dari temuannya dan bisa digunakan negara-negara lain dan mereka bisa beli hak cipta tersebut,” pungkas Jerry. (R-01/rls)
© Copyright 2018 INFONEWS.CO.ID | All Right Reserved