INFO KRIMINAL

Kamis, 08 Agustus 2019

Pemilik Sabu 8 Kg Dilimpahkan Kejari

Pemilik Sabu 8 Kg Dilimpahkan Kejari

INFONEWS.CO.ID ■ Penyidik Polrestabes Semarang limpahkan berkas perkara dan tersangka atas nama Rudy Rahman ,33, warga Teluk Tiram Laut, Banjarmasin Barat, yang diduga sebagai pemilik narkotika jenis sabu sabu seberat 8 kilogram, ke Penuntut Umum (PU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Semarang.

Kasatres Narkoba Polrestabes Semarang AKBP Bambang Yugo Pamumgkas mengatakan bahwa penyerahan tersangka dan barang bukti ke Kejari Semarang ini setelah berkas tersangka Rudy Rahman dinyatakan lengkap (P21) oleh JPU.

“Tersangka Rudi untuk proses penyidikan di Satresnarkoba sudah selesai dan sudah dinyatakan lengkap berkasnya.Termasuk petunjuk dari Jaksa sudah kita lengkapi,” tegas AKBP Bambang Yugo di Mapolrestabes Semarang.

Terpisah, Kasi Tipidum Kejari Kota Semarang, Bambang Rudi Hartoko, melalui Kasubsi Penuntutan Tipidum, Ardhika Wisnu, mengaku telah menerima pelimpahan tersangka dan barang bukti atas nama tersangka Rudy Rachman. Adapun barang bukti dalam kasus itu, disebutkannya, dari 8 Kilogram (Kg) sabu yang ditemukan dari tersangka, telah disisihkan dijadikan sampel kurang lebih 700 gram, kemudian tas sabu dan handphone. Sedangkan uang tunai diakuinya tidak ada, karena terkait uang masih dilakukan tahap pengecekan di bagian barang bukti.

“Posisi tersangka ditangkap begitu datang di apartemen Candi, sedangkan sabu itu rencananya akan dijual di area Semarang. Penangkapan dilakukan Polrestabes Semarang, pelaku ditangkap seorang diri,”kata Ardhika Wisnu. (Sumber: JP)

Selasa, 06 Agustus 2019

DPP LIRA Pastikan Siang Ini Dj. Rere Monique Kembali Ke Tanah Air

DPP LIRA Pastikan Siang Ini Dj. Rere Monique Kembali Ke Tanah Air

INFONEWS.CO.ID ■ Setelah melalui tahap negosiasi cukup alot dengan pihak Imigrasi Malaysia, Dj. Rere Monique di pastikan siang ini akan kembali ke tanah air.

"Ya, inshaa Allah siang ini (06/08), jam 12 Rere akan kembali ke tanah air. Beliau (Rere) langsung ke Surabaya," kata Irham Maulidy, HR. S.Sos. M.Sos Koordinator pelaksana DPP LSM LIRA kepada Infonews.co.id, pada Selasa pagi (06/08).

Pembebasan Rere ini, kata Irham, merupakan Kado terindah Kemerdekaan HUT Kemerdekaan Indonesia ke 74th.

Sebelumnya, kasus yang menimpa Ani Rahman Seniawati atau beken dipanggil Dj. Rere Monique, wanita kelahiran Sragen 24 Agustus 1992 ini, ramai menjadi perbincangan (viral) di masyarakat.

Pasalnya, Rere ditangkap pihak Imigrasi Malaysia di sebuah Club malam di Kuala Lumpur, Jum'at (26/7) sekitar  jam 24.00 (dinihari) saat Rere menyapa fans nya setelah sempat tampil satu lagu menggoyang sekitar seribu lebih pengunjung disalah satu club malam Kuala Lumpur, pihak Imigrasi Malaysia melakukan operasi penangkapan dan sekitar 58 orang pengunjung ditangkap karena berbagai alasan pelanggaran dan termasuk Rere Monique diantaranya.

Keluarga Rere Monique mengetahui ikhwal penangkapan Dj kondang asal Surabaya ini, sesaat setelah terjadinya penangkapan melalui rekan Rere, Oby Saputra di Malaysia.

Menurut Oby, Rere ditahan di Imigrasi Malaysia, Bukit Jalil dan dipindahkan ke Putra Jaya. Berbeda dengan tahanan lain yang tetap ditahan di Bukit Jalil.

Karena tidak adanya kepastian kondisi Rere Monique, pada Hari Minggu (28/7) pihak keluarga Rere Monique menghubungi DPP LSM LIRA di Jakarta, untuk membantu penyelesaian kasus pelanggaran Imigrasi di Malaysia.

Setelah menerima pengaduan keluarga Rere Monique, Senin (29/7) DPP LSM LIRA berkoordinasi dengan KBRI Kuala Lumpur, Koordinasi melalui sambungan Whatsap dilakukan dengan Bapak Agung C. Sumirat (Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya KBRI Kuala Lumpur).

"Segera kami telusuri dan akan kita koordinasikan dengan Consuller perlindungan WNI" ujar Agung.

Pihak KBRI Kuala Lumpur, bergerak cepat. Rabu (31/7) Melalui Atase Perlindungan WNI, mereka mendatangi Imigrasi Bukit Jalil untuk mendampingi dan mengklarifikasi ihwal penangkapan Dj. Rere Monique. Seperti dikemukakan Gustaf (staff Atase Perlindungan WNI di Malaysia).

Komunikasi dan Koordinasi intensif dilakukan DPP LSM LIRA tidak hanya melalui KBRI Kuala Lumpur, tapi juga dengan berbagai jaringan yang dimiliki di Malaysia. (LIRA telah melakukan MoU dan Kerjasama dengan beberapa NGO Malaysia, seperti GPMS dan AGRA).

Pemberitaan tentang penangkapan dan penahanan DJ. Rere Monique viral di Malaysia dan Indonesia, ada beberapa media yang bahkan memberitakan bahwa penangkapan Rere terkait Narkoba.



Seperti dilansir The Star Online, Senin (29/7), DJ Rere ditahan setelah penyelenggara acara tak bisa menunjukkan dokumentasi semestinya yang diperlukan bagi dia untuk tampil di negara tersebut.

Direktur Jenderal Imigrasi Malaysia, Datuk Khairul Dzaimee Daud mengatakan pihaknya telah menegur panitia penyelenggara yang menampilkan DJ Rere. Pasalnya, hingga mendekati hari pertunjukan panitia tidak bisa menunjukkan dokumen-dokumen yang diperlukan.

Khairul mengatakan, departemennya telah memerintahkan penyelenggara acara untuk tidak melanjutkan acara yang mengundang DJ Rere dikarenakan perempuan itu masuk ke Malaysia hanya dengan izin visa kunjungan, bukan untuk bekerja.

Artinya Clear, bahwa penahanan Rere Monique bukan terkait NARKOBA, karena sudah menjadi Komitmen LSM LIRA tidak akan pernah membantu bila menyangkut penyalahgunaan Narkoba.

Pada hari Kamis, 01 Agustus 2019, Irham Maulidy (Wapres Lira) bertolak ke Kuala Lumpur Malaysia, setiba di Kuala Lumpur. Irham Maulidy langsung berkoordinasi dengan penyelenggara acara (pengundang Dj. Rere Monique).

Oby Saputra mewakili penyelenggara/pengundang menyampaikan kronologis dan memastikan keadaan Rere ditahanan imigrasi Putra Jaya dalam keadaan baik dan sehat. Karena sudah malam hari, kami tidak dapat bertemu Rere pada saat itu juga.


Koordinasi dilakukan LIRA dengan KBRI Kuala Lumpur langsung diterima Krishna K.U. Hannan (Wakil Dubes), Jum'at (2/8) pagi dikantor KBRI Kuala Lumpur.

Sekitar jam 12.00 (waktu Malaysia) sebelum Sholat Jum'at. Kami mendapat kabar dari pihak Imigrasi Putra Jaya, bahwa Rere Monique dapat dibebaskan dengan membayar Kompound (Denda) pada saat itu juga. Segera kami (Oby Saputra) bergegas membayar denda sekitar 300RM, dan mendapatkan penjelasan bahwa Rere Monique bisa bebas pada Hari Senin (5/8).

Sekitar jam 10.00 (waktu Malaysia) kami menjemput Rere Monique ke tempat penahanan di Imigrasi Putra Jaya dan mengurus segala keperluan pemulangan seperti tiket, paspor dll. Jam 14.00 semestinya Rere sudah bisa bebas dan dipulangkan ke Indonesia, tapi harga tiket pesawat sangat tinggi, maka akhirnya diputuskan pulang ke Surabaya, Selasa (6/8) dengan maskapai Air Asia QZ325 jam 14.00.

LSM LIRA bersama keluarga Rere Monique, menyambut baik pembebasan tersebut. "Komunikasi dan Pelayanan yang diberikan oleh Imigrasi Malaysia sangat baik, akomodatif dan solutif. Semestinya Rere Monique dapat langsung dibebaskan, asalkan manajer penyelenggara kegiatan mau mendatangi pihak imigrasi Putra Jaya, akan tetapi mereka (penyelenggara) tidak kunjung datang hingga sampai sepekan ini dan akhirnya pihak Imigrasi melepaskan Rere dengan membayar denda".

HIMBAUAN LIRA

LIRA menghimbau kepada masyarakat Indonesia yg akan bekerja di Luar Negeri, agar melengkapi segala persyaratan yang telah ditentukan, seperti Paspor, Permit (surat ijin) dan Visa disesuaikan dengan kepentingan yang akan dilakukan di Negara tujuan.

Kasus yang menimpa Rere Monique jangan sampai terulang, terhadap anda dan keluarga kita semua.

Perlu diketahui, saat ini pemerintah malaysia sedang membuat kebijakan pengampunan bagi pendatang illegal untuk dipulangkan tanpa melalui penahanan terlebih dahulu di Imigrasi, akan tetapi seumur hidup tidak lagi diijinkan (dicekal) datang ke Malaysia.

■ R-01

Jumat, 02 Agustus 2019

Nekad Curi Motor Polisi, Ari Caplang Akhirnya Diterjang Pelor

Nekad Curi Motor Polisi, Ari Caplang Akhirnya Diterjang Pelor

INFONEWS.CO.ID ■ HBO alias Ari Caplang, 28, tergolong nekad. Pasalnya, sudah tahu motor milik anggota Polisi masih juga disikat. Alkisah, ia tersungkur di terjang pelor.

Tindakan tegas dan terukur itu diterima Ari tepat pada kakinya. Menurut informasi, kaki Ari terpaksa ditembak Tim Pegasus Polsek Medan Barat lantaran melawan saat akan dibawa pengembangan untuk mencari barang bukti kejahatannya.

Sebelumnya, HBO alias Ari Caplang, 28, warga Jalan Veteran Pasar VI, Desa Manunggal, Kecamatan Medan Labuhan, Kab.Deliserdang, Sumut ini berurusan dengan Polisi karena nekat mencuri sepeda motor milik seorang petugas kepolisian yakni Aiptu Yon Mariono.

Saat bertugas, Aiptu Yon Mariono memarkirkan kendaraannya di Jalan KL Yos Sudarso, Kelurahan Pulo Brayan Kota, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara ( Sumut) setahun silam tepatnya, Senin (31/7/2018).

Kapolsek Medan Barat, Kompol Choky melalui Kanit Reskrimnya, Iptu H Manullang kepada wartawan, Kamis (1/8/2019) membenarkan kasus pencurian yang menimpa anggota polisi yang saat itu bertugas di Sat Sabhara Polrestabes Medan.

"Saat diparkir itulah, sepeda motor Honda Mega Pro warna hitam abu-abu BK 3252 ACM milik Aiptu Yon Mariono dicuri," terangnya.

Begitu kita terima laporannya, kata Manulang, Tim Pegasus Unit Reskrim Polsek Medan Barat langsung melakukan penyidikan. Hingga akhirnya mengetahui identitas pelakunya.

Begitu mendapatkan informasi keberadaan tersangkanya, petugas langsung bergerak dan menangkap Ari Caplang dari kediamannya.

“Saat kita interogasi, tersangka Ari Caplang mengakui bahwasannya dia bersama temannya, Fe yang kini sedang menjalani hukuman di Lapas Tg Gusta, terkait kasus berbeda yang mengambil sepeda motor Honda Mega Pro BK 3252 ACM, milik korban, ” ungkap Iptu H Manullang.

Dijelaskannya, tersangka Fe yang menjual kendaraan korban kepada seseorang. Sementara tersangka Ari Caplang hanya memperoleh bagian dari hasil penjualan sebesar Rp 700 ribu.

“Tersangka Ari Caplang menggunakan uang tersebut untuk membeli baju kaos warna hitam seharga Rp 25 ribu dan sisanya digunakan untuk bermain judi,” terang Manullang.

Kepada petugas, tersangka Ari Caplang juga mengaku pernah melakukan pencurian dengan kekerasan (Curas) di 4 lokasi yang berbeda. Dari pengakuannya itulah, polisi pun berupaya melakukan pengembangan guna mencari tahu lokasi dan barang bukti yang pernah diambil tersangka dari para korbannya. Namun saat dibawa tersangka malah mencoba melawan polisi. Sehingga Tim Pegasus memberikan tindakan tegas dan terukur dengan cara melumpuhkan kakinya.

■ R-02/rls

Kamis, 01 Agustus 2019

Agar Tetap Awet Muda, Ayah Kandung Ini Tega Cabuli Anaknya

Agar Tetap Awet Muda, Ayah Kandung Ini Tega Cabuli Anaknya

INFONEWS.CO.ID ■ Seorang bapak  S (54) di Kabupaten Malang tega mencabuli putrinya sendiri. Pelaku berdalih bahwa perbuatan bejat itu dilakukan agar dirinya tetap awet muda.

Sang Putri itu telah menjadi korban perbuatan bejat ayahnya itu sejak korban masih belajar di taman kanak-kanak hingga  hingga saat berusia SD. Tersangka diketahui tinggal di desa Pagak Kabupaten Malang. Saat ini korban masih berusia 13 tahun.

Kasus pencabulan terbongkar setelah keluarga mengetahui perbuatan tersangka dan melaporkannya kepada Unit pelayanan Perempuan dan anak Polres Malang.

Atas perbuatan bejatnya dan merusak masa depan korban,  pelaku patut mendapat ganjaran hukuman yang maksimal dan setimpal  dengan perbuatannya.

"Saya yakin Polres Malang akan bekerja keras untuk menemukan bukti-bukti yang cukup untuk disampaikan kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) sehingga Jaksa dan menyusun tuntutan dengan ketentuan hukum yang berkeadilan bagi korban. Pelaku patut mendapat hukuman yang berat agar menimbulkan rfek jera ditengah kehidupan masyarakat," demikian disampaikan Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak  merespon kasus kejahatan seksual ini kepada sejumlah media di kantornya, hari ini.

Dihadapan Kepala Unut PPA Polres Malang Ipda Yulistiana mengatakan tersangka mengaku telah mencabuli korban sebanyak 7 Kali. Tindakan tak bermoral itu dilakukan dalam rentang waktu cukup lama yakni sejak korban masih belajar di taman kanak-kanak hingga saat ini dimana korban sudah mengenyam pendidikan dibangku sekolah dasar.

Pengakuan tersangka 7 kali dilakukan sejak korban masih TK. Pebuatan bejat itu  dilakukan di rumah tersangka.  Status korban adalah anak tiri dari pernikahan sirih,  kata Yulistiani kepada media Jumat 5 Juli 2019.

Menurutnya tersangka  mengapa tega mencabuli sang anak tiri melakukan perbuatan biadab itu agar pelaku tetap awet muda.

"Biar awet muda katanya harus menyetubuhi korban, selain itu juga karena pelaku memiliki nafsu bejat terhadap korban yang juga tinggal satu rumah," imbuhnya.

Kejahatan Seksual itu dilakukan ketika kondisi rumah sepi dan  tersangka mengancam korban membunuh bila bercerita tentang perbuatannya kepada siapan. Dengan kondisi tertekan korban harus melayani nafsu birahi tersangka berulang kali walau menderita sakit.

Kasus ini terungkap setelah keluarga curiga dan akhirnya mendapatkan pengakuan dari korban, lanjut Yulistian.

Atas perbuatan bejatnya itu, tersangka dijerat pasal 81 UU RI Nomor 35 Tahun 2014 mengenai perubahan atas UU RI Nomor : 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 15 tahun. Karena kejahatan seksual ini dilakukan orangtua korban yang seharusnya melindungi korban, maka hukuman pelaku dapat ditambahkan 1/3  dari pidana pokoknya.

Untuk pendampingan korban, Komnas Perlindungan Anak segera membentuk Tim Advokasi Korban yang akan diminta untuk dimotori Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Batu dengan melibatkan peran serta P2TP2A Kabupaten Malang dan Unit PPA Polres Batu Malang.

■ rls/LPA

Jumat, 26 Juli 2019

Lagi Buang Hajad, Turis Australia Ditemukan Meninggal di Toilet

Turis Australia Ditemukan Meninggal di Toilet

INFONEWS.CO.ID ■ Simon Richard Mark Hancock (43), warga negara asing dari Australia, ditemukan tewas pada Rabu (24/7) di toilet kamar mandi di Villa Raka, Jalan Nakula V No 11 A, Legian Kaja, Distrik Kuta, Kabupaten Badung, Provinsi Bali .

Menurut karyawan Villa, I Ketut Tinggen (44) dari Karangasem di mana kondisi korban pertama kali ditemukan dalam posisi duduk tidak sadar di atas Toilet (melakukan xxx), korban mengenakan kaus putih, dengan kepala kiri dan bersandar di dinding toilet.

Saat ditemukan, korban mengenakan celana pendek Abu.

Sementara itu teman korban, Kurt Lord (39) dari Australia menjelaskan bahwa korban check in di Villa Raka pada Selasa (23/7) sekitar 14,50 waktu Bali, bersama dengan tiga teman lainnya, yang dicatat atas nama Simon Richard Mark Hancock ( Korban), Patricia Pecevce dan Kendele Osbourn, Australia. Mereka berencana tinggal hingga Senin (29/7).

Setelah check-in, ketiga teman korban meninggalkan Villa untuk makan malam, sementara para korban berada di Villa sendiri.

"Sekitar jam 8:05 malam, ketika kami kembali ke Villa dan mendapati korban duduk di toilet, dalam keadaan tidak sadar, kepalanya dimiringkan ke kiri ke dinding kemudian teman korban menghubungi staf Villa untuk menghubungi rumah sakit," kata Kurt Lord.

20 menit kemudian, Ambulans Rumah Sakit Siloam dengan tim medis tiba di tempat kejadian dan kemudian melakukan pemeriksaan medis seperti detak jantung, jantung dan murid korban dan setelah pemeriksaan korban dinyatakan meninggal, tanpa tanda-tanda kekerasan yang mengakibatkan dalam kematian korban.

Manajemen Villa kemudian memanggil Rumah Sakit Ambulans untuk membawa korban ke ruang perawatan di Rumah Sakit Sanglah dan tubuh korban kemudian dibawa ke Rumah Sakit Sanglah Denpasar untuk melakukan otopsi oleh pakar Dr. Forensic.

Sumber: JBN

Senin, 22 Juli 2019

Hanya Dalam Waktu 3 Jam, Polsek Medan Helvetia Ringkus Pelaku Curanmor

Hanya Dalam Waktu 3 Jam, Polsek Medan Helvetia Ringkus Pelaku Curanmor

INFONEWS.CO.ID ■ Kanit Reskrim Polsek Medan Helvetia.Iptu.S.Usman Nasution.SH beserta Team Pegasus Polsek Medan Helvetia telah berhasil meringkus pelaku pencurian Sepeda Motor berinsial MMTS yang berusia 40 tahun Alamat Ayahanda gang Pendidikan, pada hari hari Kamis tanggal 18 Juli 2019 sekira pukul 18.00 wib.

Sebelumnya, Kanit Reskrim mendapat info dari korban, bahwa Pelaku berada di simpang Gaperta kecamatan Medan Helvetia, selanjutnya Kanit Reskrim dan Team Pegasus bergerak ke lokasi sesuai Info yang di dapat.

Sampai di lokasi, Kanit Reskrim dan Team Pegasus dapat mengamankan Pelaku tanpa perlawanan, dan setelah di lakukan pengembangan, Pelaku mengakuinya dan di temukan 1 (satu) unit sepeda Motor Vario dengan nomor Polisi BK 4581 ADQ yang di sembunyikan oleh Pelaku di jalan Sidorejo gang Kertas Ayahanda beserta baju dan alat yang di pakai saat melakukan aksinya, pelaku  selanjutnya di boyong ke Polsek guna di lakukan proses hukum.

Kejadian berawal dari Korban atas nama Hesti Handayani umur 28 tahun, hendak pergi keluar rumah dengan menggunakan sepeda motornya. Selanjutnya korban mengeluarkan sepeda motornya dan di parkirkan di teras rumahnya dengan kunci sepeda motor menempel pada tempat kunci sepeda motor tersebut.

Saat itu, Pelaku sedang melintas dan melihat korban dengan cepat Pelaku membawa lari sepeda motor korban dan atas kejadian tersebut korban sempat mendengar, kalau sepeda motornya seperti ada yang menghidupkan.

Korban sempat keluar dari rumahnya dan melihat kalau sepeda motornya ada yang membawanya, tak kuasa, lalu korban berteriak dan mengejar Pelaku, namun  Pelaku begitu kencang dan lihai membawa sepeda motor hasil curiannya.

Atas kejadian tersebut korban mendatangi Polsek Medan Helvetia guna membuat Laporan Pengaduan.

Dalam hal ini awak media mencoba konfirmasi kepada  Kapolsek Medan Helvetia Kompol.P.Hutahean.SIK, dan Kapolsek membenarkan kejadian dan penangkapan Pelaku tersebut, sesuai dengan Laporan Pengaduan Korban : LP / 439 / VII / 2019 / Polrestabes Medan / Polsek Medan Helvetia.

"Saat ini Pelaku masih kita Proses sesuai Prosedur Hukum yang berlaku dan Kami juga masih melakukan pengembangan terkait apa yang dilakukan oleh pelaku," kata Kapolsek. (rls)

Rabu, 17 Juli 2019

Bentrok di Register 45 Mekarjaya Mesuji Telan 3 Korban

Bentrok di Register 45 Mekarjaya Mesuji Telan 3 Korban

INFONEWS.CO.ID ■ Dua kelompok warga terlibat bentrok di Register 45 Mekarjaya, Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung pada Rabu (17/7) siang. Tiga orang dilaporkan tewas akibat bentrokan ini.

"Iya benar terjadi bentrok, anggota sedang berada di lokasi," kata Kabid Humas Polda Lampung Kombes Zahwani Pandra Arsyad, di Bandarlampung. Seperti dilansir Antara.

Informasi di TKP menyebutkan, kedua kelompok yaitu wilayah Mesuji Raya bentrok dengan kelompok Mekar Jaya yang diduga buntut dari masalah kendaraan bajak milik salah satu kelompok tersebut.

Namun pihak lain menyebutkan kasus ini bermula dari persoalan lahan.

Sejumlah orang yang diduga dari kelompok tersebut merebut paksa Bajak hingga terjadi cekcok dan pertikaian hingga  mengakibatkan adanya korban.

Peristiwa ini kemudian berkembang dan kejadian tersebut mengakibatkan 9 orang alami luka bacok, dan dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Insiden ini juga mengakibatkan 3 orang dikabarkan meninggal dunia, dan saat ini berada di Puskesmas Simpang Pematang.

Meski dinyatakan kondusif oleh pihak kepolisian, sejumlah petugas tampak siaga di beberapa tempat rawan guna antipasi rusuh lanjutan. Pihak kepolisian dari resort Mesuji dibantu personil Kodim 0426 disiagakan. (Mardiyanto)

Minggu, 14 Juli 2019

Komnas Perlindungan Anak Sayangkan Jokowi Kabulkan Grasi Kasus Kekerasan Terhadap Siswa JIS

  Komnas Perlindungan Anak Sayangkan Jokowi Kabulkan Grasi Kasus Kekerasan Terhadap Siswa JIS

INFONEWS.CO.ID ■ Kebijakan Presiden RI Joko Widodo yang mengabulkan permohonan grasi terpidana kasus kejahatan seksual terhadap siswa di Jakarta International School (JIS) yang berlokasi di  Jakarta Selatan dilakukan Neil Bantlemen warga negara Kanada  telah mencederai dan melemahkan Gerakan Masyarakat dan para Pegiat Perlindungan Anak dalam Memutus Mata Rantai Kejahatan Seksual Terhadap Anak di Indonesia yang saat ini telah menjadi komitmen Gerakan Nasional.

Permohonan grasi yang didasarkan pada UU RI  Nomor :  22 Tahun 2002 tentang grasi itu artinya Neil Bantlemen mengakui kesalahannya dan kemudian minta pengampunan kepada Presiden atas perbuatannya. Karena grasi merupakan pengakuan bersalah, pengampunan berupa perubahan,  pengurangan atau penghapusan pelaksanaan pidana kepada terpidana yang diberikan presiden.

Oleh sebab itu, atas  pengabulan grasi terhadap kejahatan seksual itu, Komnas Perlindungan Anak menilai justru grasi yang diberikan Presiden telah mengabaikan isi dari Ketentuan UU RI nomor : 17 tahun 2016 mengenai Penerapan Perpu Nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI Nomor :  23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,  Komisi Nasional Perlindungan Anak sebagai lembaga independen yang diberikan mandat, tugas dan tugas oleh masyarakat untuk memberikan pembelaan dan perlindungan anak di Indonesia, segera menulis surat kepada Presiden RI untuk mempertanyakan latar belakang dan pertimbangan pemberian grasi kepada mantan guru di Jakarta Internasional School  (JIS) itu yang divonis bersalah oleh Mahkamah Agung (MA) dengan hukuman 11 tahun penjara.

BACA JUGA:  Bagaimana Agar Anak Menjadi Penurut? 

"Rasanya kok saya tidak percaya Presiden Jokowi mengabulkan permohonan grasi predator kejahatan seksual terhadap anak,  sementara atas maraknya kasus-kasus kejahatan seksual terhadap anak 10 tahun belakangan ini di Indonesia,  beliaulah yang menaruh perhatian serius terhadap masalah ini dengan menerbitkan Perpu Nomor  : 01 tahun 2019 tentang perubahan kedua UU RI bomor : 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,   agar para Predator kejahatan seksual terhadap anak di Indonesia dapat dikenakan sanksi hukum luar biasa dan menempatkan dan menetapkan bahwa kejahatan seksual terhadap anak merupakan kejahatan luar biasa  (extra ordinary crime) dan kejahatan seksual itu juga disetarakan dengan tindak pidana khusus seperti narkoba terorisme dan korupsi dan para predator kejahatan seksual terhadap anak dapat dihukum seumur hidup dan hukuman mati serta dapat pula ditambahkan dengan hukuman tambahan dan atau pemberatan berupa kebiri (kastrasi) melalui suntik kimia dan pemasangan chip di tubuh para predator. 

Namun dengan berbagai hukuman tambahan dan  pemberatan itu,  pertanyaan mendasar dengan alasan dan pertimbangan apakah bapak Presiden Jokowidodo memberikan grasi kepada Neil Bantlemen sebagai pelaku kejahatan seksual terhadap siswanya di Jakarta International School (JIS) itu", demikian disampaikan Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak di Denpasar Sabtub (13/07).

Arist mengatakan  sekalipun Presiden mengabulkan  permohonan  grasi Neil Bantlemen, Komnas Perlindungan Anak terus mengajak dan  mendorong semangat masyarakat dan para pegiat perlindungan anak anak di Indonesia untuk tidak henti-hentinya terus  memberikan pembelaan dan perlindungan terhadap anak dan meneruskan Aksi Nasional Memutus mata rantai Kejahatan Seksual Terhadap Anak di Indonesia sebagai Komitmen Nasional berbasis Masyarakat. 

Dan demi kepentingan terbaik bagi anak khususnya anak korban kejahatan seksual, atas pengabulan grasi yang diberikan Presiden kepada mantan guru JIS itu,  Komnas Anak akan terus berusaha untuk mendapatkan informasi dari Presiden.

Arist menjelaskan, bahwa pada April 2005 PN Jakarta Selatan menjatuhkan vonis 10 tahun penjara kepada Neil Bantlemen karena dinyatakan bersalah telah melakukan kejahatan seksual terhadap siswanya di JIS.

Tidak menerima putusan ini kemudian Neil mengajukan banding atas putusan pengadilan Negeri Jakarta Selatan tersebut dan oleh engadilan Tinggi Jakarta pada Agustus 2015 putusan PN Jakarta Selatan itu dianulir dan Neil dinyatakan bebas,  namun setelah bebas 2 bulan,  kembali lagi Neil menghuni penjara karena tingkat kasasi Mahkamah Agung (MA) memvonis Neil bersalah dengan menghukum 11 tahun penjara.

Namun melalui Keppres Nomor 13/G/ 2019 tertanggal 19 Juni 2019 hukuman Neil menjadi berkurang dari 11 tahun menjadi 5 tahun dan 1 bulan serta denda 100.000.000,  akhirnya  20 Juni 2019 dibebaskan dan saat ini  Neil Bantlemen sudah berada di negaranya Kanada. (rls/Red)

Senin, 08 Juli 2019

Polisi Grebeg Judi Sambung Ayam di Baebunta, 7 Motor Berhasil Disita

Polisi Grebeg Judi Sambung Ayam di Baebunta, 7 Motor Berhasil Disita

INFONEWS.CO.ID ■ Polsek Baebunta Polres Luwu Utara, melakukan penggerebekan judi sabung ayam di kebun kelapa sawit, Dusun Petambua, Desa Radda, Kecamatan Baebunta, Kabupaten Luwu Utara. Minggu (07/07/2019).

Penggerebekan dilakukan setelah polisi menerima informasi dari warga. Aksi pelaku judi sabung ayam tersebut sudah lama meresahkan warga.

Saat polisi tiba di lokasi, sejumlah pelaku lari berhamburan karena lokasi sabung ayam berada di bukit.

Kapolsek Baebunta, Iptu Budi Amin mengatakan tidak berhasil menangkap para pelaku dikarenakan pelaku lebih dahulu melihat petugas datang. Polisi hanya mengamankan barang bukti saja.

“Kami hanya mengamankan barang bukti berupa tiga ekor ayam yang digunakan pelaku. Serta Tujuh unit motor yang ditinggalkan pelaku yang melarikan diri,” terangnya kepada awak media, hari ini.

Meski demikian, Kapolsek menambahkan, akan terus melakukan pengawasan di daerah Baebunta, untuk mencegah adanya kejadian serupa.

"Jika ada, ditangkap, maka akan kami diproses secara hukum.," tegasnya.

Diketahui polisi sempat menyisir sekitar lokasi sabung ayam. Namun upayanya untuk menangkap pelaku gagal.

Redaksi Sulsel : Putri

Terkait Proyek PLTU, Mahasiswa Riau Demo Kantor KPK

 Terkait Proyek PLTU, Mahasiswa Riau Demo Kantor KPK

INFONEWS.CO.ID ■ Puluhan mahasiswa yang mengatasnamakan dirinya Koalisi Mahasiswa Anti Korupsi menggelar aksi unjuk di depan gedung KPK, Jl. Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Senin (8/7/2019).

Kedatangan mereka adalah agar komisi anti rasuah tersebut segera menetapkan para petinggi Partai Golkar yang diduga ikut terlibat dalam kasus korupsi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Riau-1 berkapasitas 35.000 MW.

"Mencermati tentang perkembangan pemberantasan korupsi oleh KPK dalam kasus korupsi mega proyek pembangunan PLTU Riau-1 memperlihatkan bahwa KPK terkesan tidak berani mengungkap secara serius terkait dengan aktor-aktor yang terlibat dalam agenda kejahatan tersebut," ujar Kordinator Lapangan Koalisi Mahasiswa Anti Korupsi, Abdur Rais disela aksi.

Abdur menjelaskan kami mendatangi gedung KPK ini agar KPK segera memeriksa dan memproses Ketua Golkar Airlangga Hartarto dan Ketua Fraksi Golkar DPR RI Melchias Markus Mekeng. Karena kedua nama tersebut diduga kuat terlibat kasus korupsi PLTU Riau-1.

"Namun sampai hari ini tidak pernah dipanggil dan diperiksa oleh KPK, meskipun dalam beberapa media, KPK menyatakan berpeluang untuk memanggil Airlangga sebagai saksi dalam kasus dugaan suap proyek pembangunan PLTU Riau-1," katanya.

Padahal, lanjut Abdur, sebelumnya dalam perkara ini KPK telah menjerat tiga orang sebagai tersangka. Mereka adalah Eni Maulani Saragih (Mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR dari Fraksi Golkar), Johannes Budisutrisno Kotjo (Pemegang Saham Blackgokd Natural Recourses), dan Idrus Marham (Mantan Menteri Sosial dan Sekretaris Jenderal Golkar). Eni Saragih dan Idrus Marham diduga bersama-sama menerima uang sebesar Rp 6,25 miliar dari Kotjo secara bertahap.

"Munculnya nama Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto yang juga menjabat sebagai Menteri Perindustrian RI didasarkan pada pengakuan Eni Maulani Saragiah ketika menjadi saksi dalam sidang dengan terdakwa pemegang saham PT. Blackgold Natural Resources Johannes Budisutrisno Kotjo. Eni mengaku sebagian dari Rp 2 miliar yang dirinya terima dari Johannes Budisutrisno Kotjo digunakan untuk keperluan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Golkar pada Desember 2017," urainya.

Abdur juga menjelaskan dalam kasus tersebut, Eni Maulani Saragih‎ juga telah membeberkan pernah melakukan pertemuan dengan Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto dan Pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited, Johannes Budisutrisno Kotjo. Pertemuan itu terjadi di kediaman Airlangga setelah menjadi Ketum Golkar.

"Selain Airlangga dan Johannes Kotjo, pertemuan itu juga dihadiri oleh dua politikus Golkar lainnya, Idrus Marham dan Melchias Marcus Mekeng. Pertemuan tersebut membahas proyek PLTU Riau-1 senilai USD 900 Juta dan tindaklanjut kepentingan Johannes Budisutrisno Kotjo menggarap proyek PLTU Riau-1. Bukan hanya itu, Eni juga mengaku sempat diperintahkan Airlangga untuk mengawal proyek PLTU Riau-1," terangnya.

Berdasarkan paparan di atas, imbuhnya, kami menduga bahwa Airlangga Hartarto merupakan aktor utama terjadinya korupsi dalam proyek PLTU Riau-1. Airlangga diduga telah berperan sebagai fasilitator dalam pertemuan dan agenda kejahatan tersebut.

- rls

Bawa Paket Sabu, 2 Pria Ini Diamankan Satgas Kostrad

  Bawa Paket Sabu, 2 Pria Ini Diamankan Satgas Kostrad

INFONEWS.CO.ID ■ Seakan tak pernah lelah dalam berkomitmen mencegah peredaran barang terlarang, Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Yonif PR 328/Dgh Kostrad terus melaksanakan sweeping. Kegiatan Ini pun berhasil setelah mengamankan 2 orang pemuda yang membawa sabu didalam bungkus rokok.

Disampaikan oleh Dansatgas Pamtas Yonif PR 328/DGH Kostrad, Mayor Inf Erwin Iswari, S.Sos., M.Tr (Han) kejadian bermula saat Pos Nafri yang dipimpin oleh Letda Inf Ahmad Mukti melakukan sweeping pada (06/07/2019). Sabtu malam pukul 21.30 Wit.

“Pada saat melaksanakan sweeping, Praka Doni memeriksa sebuah kendaraan bermotor yang dikendarai oleh Amiruddin (35 Th) dan Apriadi (35 Th) Warga Arso 2. Pada saat dilakukan pemeriksaan pada Amiruddin terlihat panik dan seakan menyembunyikan sesuatu dari kantongnya, personel satgas pun mendapatkan 1 paket sabu siap pakai yang ditaruh didalam bungkus rokok,” jelas Mayor Inf Erwin.

Dilanjutkan Mayor Inf Erwin, personel Satgas juga mengamankan 3 alat hisap sabu.

“Alat hisap sabu diamankan dari kantong celana milik Apriadi. Untuk sabu yang diamankan seberat 2 gram yang rencananya akan digunakan dirumah Amiruddin,” ucap Dansatgas.

Modus yang digunakan untuk transaksi sabu yang dilakukan oleh pelaku menggunakan modus sistem tempel, “Modus sistem tempel, dimana pembeli menunggu di suatu tempat dan bertemu dengan pembawa barang, kemudian sipembawa barang menghampiri dan memberikan barang tersebut kepada pemberi tanpa ada komunikasi,” jelasnya.

Kedua pelaku merupakan pengguna yang sudah 7 bulan menggunakan sabu-sabu.

“Untuk saat ini keduanya telah kami serahkan kepada yang berwajib untuk diproses lebih lanjut,” tuturnya.

■ Albert / Penkostrad

Rabu, 03 Juli 2019

Tempat Kost Di purwakarta Jadi "Sarang" Narkoba, 10 Tersangka Berhasil Diciduk


INFONEWS.CO.ID ■ Lagi, Satuan Reserse Narkoba Polres Purwakarta berhasil ungkap 8 kasus narkoba dan menciduk 10 tersangka pengguna dan pengedar narkoba.

"Dari 10 pelaku berhasil kita amankan satu diantaranya perempuan," Kata Kapolres Purwakarta, AKBP Matrius melalui Kasubag Humas, Ipda Tini Yutini. SH, Rabu (3/7/2019) kepada awak media, di Purwakarta.

Tini menejelaskan, penangkapan terhadap 10 tersangka ini dilakukan dalam operasi yang menyasar rumah kontrakan dan kos - kosan di wilayah Purwakarta.

"Yang menyedihkan, para pengguna dan pengedar memanfaatkan tempat kos sebagai area transaksi narkoba. Dan mereka para tersangka yang diamankan berusia 22 sampai 36 tahun," pungkas Tini.

Dari 8 perkara narkoba yang berhasil di ungkap, barang bukti yang berhasil diamankan diantaranya 7.02 gram sabu dan 162,9 gram ganja.

"Kami di sini komitmen bahwa Polres Purwakarta menyatakan perang terhadap Narkoba," imbuhnya.

Upaya preventif guna memberantas peredaran narkoba di wilayah Purwakarta, kata Tini, pihaknya akan mengedepankan sosialisai kepada masyarakat. Seperti memberikan penyuluhan bahaya narkoba di desa maupun di sekolah-sekolah.

"Karena tidak menutup kemungkinan sasaran pengedar narkoba mengarah ke masyarakat usia remaja, terutama siswa di sekolah. Sehingga, generasi muda di harus diselamatkan dari bahaya zat adiktif berbahaya tersebut," pungkasnya.

■ Darmawan Jr/rls 

Jumat, 21 Juni 2019

Peduli Kesehatan, Satgas Pamtas Kostrad Berikan Pengobatan Gratis di Jayapura


INFONEWS.CO.ID ■ Bekerjasama dengan GEMAPI (Gerakan Mahasiswa Papua Indonesia), personel Satuan   Tugas   Pengamanan   Perbatasan   (Satgas   Pamtas)   Yonif PR 328 Kostrad menggelar pengobatan gratis kepada warga Kampung Mosso, Distrik Muara Tami, Jayapura, Kamis (20/06).

Dansatgas Pamtas Yonif PR 328 Kostrad, Mayor Inf Erwin Iswari, S.Sos., M.Tr (Han) mengatakan bahwa kegiatan pengobatan gratis ini dalam rangka merayakan hari  lahir  Pancasila  yang  ke 74 sekaligus merayakan HUT ke 12 GEMAPI.

“Personel kesehatan Satgas dipimpin Lettu Ckm dr. Rizky bersama adik-adik dari mahasiswa   Papua tergerak untuk memberikan   pengobatan gratis kepada warga Kampung Mosso,   karena   kondisi   Kampung Mosso sendiri   jauh   dari   tempat pelayanan kesehatan,” ujarnya.

Kegiatan ini bertepatan dengan hari jadi GEMAPI yang ke-12, sehingga Bapak Pilatus Netep   selaku   Sekjen   GEMAPI   berinisiatif   melaksanakan   kegiatan   bakti   sosial dengan melakukan pengobatan gratis kepada warga terutama yang berada di perbatasan.

“Kami dari GEMAPI bekerjasama dengan Satgas Pamtas melaksanakan kegiatan bakti sosial, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada warga. Kami   mahasiswa   Papua   ingin   memberikan   bakti   kami   kepada masyarakat Papua,” tutur Bapak Pilatus.

“Kami memilih Kampung Mosso karena Kampung ini   jauh   dari   pusat   kota   dan   fasilitas   pelayanan   kesehatan   bahkan   sinyal   untuk berkomunikasipun tidak ada.” pungkasnya.

Sebanyak 76 orang warga Kampung Mosso mengikuti kegiatan pengobatan massal tersebut.  Dalam  kegiatan   ini  juga  dihadiri  oleh  Kepala  Kampung  Mosso, Ondoafi Kampung Mosso, Palang Merah Indonesia (PMI), serta dari Pospol Batas Skouw.

■ Red/Penkostrad

Komnas Perlindungan Anak Desak Polisi Tahan Pasutri Mempertontonkan Adegan Ranjang


INFONEWS.CO.ID ■ Perbuatan ES (25) dan LA (24)  pasangan suami istri (Pasutri) warga Desa di Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya adalah perbuatan yang patut dikaterogikan perbuatan biadab dan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kemanusiaan.

Tidaklah berlebihan bahwa perbuatan pasutri muda ini juga dapat dikategorikan dengan perbuatan dan perilaku binatang, demikian disampaikan Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait di Studio Komnas Anak TV dibilangan Pasar Rebo, Jakarta Timur Kamis 20/06 merespon perbuatan kejahatan seksual yang terjadi di Tasikmalaya.

Pasalnya, pasutri muda ini sengaja mempertontonkan adegan ranjang kepada sejumlah anak usia 12 dan 13 tahun yang tinggal disekitar rumah pelaku.

Perbuatan biadab itu berlangsung beberapa kali bahkan dilakukan di bulan Ramadhan.

Kelakuan tidak pantas dan diluar akal sehat manusia ini terbongkar setelah seorang anak menceritakan kejadian itu kepada guru ngaji di Kampungnya.

Ada sekitar 7 orang  anak yang rata-rata masih duduk dibangku sekolah dasar yang menjadi korban perilaku menyimpang seksual Pasutri ES dan LA.

Adegan ranjang itu dilakukan di kamar rumah pasutri. Keduanya mempertontonkan adegan ranjang itu, dan memungut uang Rp 5.000 dari setiap anak.

Anak-anak yang menonton adegan ranjang pasutri muda ini berudia 12 dan 13 tahun dan masih duduk dikelas 6 Sekolah Dasar.

Atas kejahatan seksual ini, Arist Merdeka Sirait mendesak  Polres Tasikmalaya untuk segera menahan pasutri muda  ini untuk mempertanggungjawabkan perbuatan bejatnya yang sengaja merusak kepribadian dan masa depan anak-anak disekitarnya.

Dengan demikian, Penyidik Polres Tasikmalaya jangan ragu-ragu menerapkan ketentuan UU RI No. 17 Tahun 2016 tentang Penerapan PERPU No. 01 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukumam pidana penjara minimal 20 tahun dan maksimal 20 tahun serta dapat ditambahkan dengan hukuman tambahan dengan ancaman hukuman seumur hidup.

Guna pemulihan traumatis para korban, Komnas Perlindungan Anak wilayah Jawa Barat segera menyiapkan tim psikolog berkordinasi dengan P2TP2A dan Dinas PPA Kabupaten Tasikmalaya, tambah Arist.

Dan untuk tidak terulangnya perbuatan bejat pasutri yang memalukan ini, Komnas Anak sebuatan lain dari Komnas Perlindungan anak segera menjadwal bertemu dengan Bupati Tasikmalaya dan jajarannya untuk membangun Gerakan  Perlindungan Anak yang berbasis partisipasi masyarakat Tasikmalaya guna mengantisipasi dan memutus mata rantai kekerasan terhadap anak.

Atas peristiwa ini, mau tidak mau masyarakat Tasikmalaya harus digerakkan untuk mengepung para predator-predator  kejahatan seksual terhadap anak dilingkunganya.

Orangtua dan masyarakat lingkungan sosial anak  tidak boleh permisif atas kejadian ini. Keluarga wajib mengalokasikan perhatian lebih serius lagi atas perubahan prilaku anak dilingkungan sosialnya, demikian  Arist mengakhiri pendapatnya.

■ rel/rls

Senin, 17 Juni 2019

Kriminalitas Meningkat, Rakyat Bosnia Protes Masuknya Migran di Perbatasan


INFONEWS.CO.ID ■ Ratusan warga Bosnia memprotes pada hari Minggu terhadap masuknya migran di kota perbatasan barat Bihac, memperingatkan risiko keamanan dan kesehatan bagi ribuan orang.

Bosnia, terhindar dari gelombang besar migran tahun 2015, sekarang melihat gelombang orang yang mencoba menjangkau negara-negara kaya melalui negara tetangga Kroasia, anggota Uni Eropa.

Sekitar 25.000 orang dari Asia dan Afrika Utara memasuki negara Balkan dari Serbia dan Montenegro tahun lalu, dan sekitar 9.000 telah tiba tahun ini.

Sekitar 6.000 berada di Bihac dan Velika Kladusa, dua kota yang berbatasan dengan Kroasia, tetapi hanya sekitar 3.500 yang terlindung di empat pusat transit di sana.

Yang lain tidur di taman dan bangunan yang terbengkalai.

"Saya datang ke sini untuk menyatakan ketidak puasan terhadap situasi yang dibawa oleh para politisi kepada kami dan juga para migran," kata Maja Tabakovic, 35, pada rapat umum di lapangan terbuka.

Pemerintah kota telah lama meminta pemerintah nasional Bosnia untuk mengangkat beban dari daerah perbatasan dan menampung migran di tempat lain.

Tetapi pemerintah belum terbentuk delapan bulan setelah pemilihan umum dan lembaga-lembaga negara yang bertanggung jawab atas masalah migrasi dan suaka beroperasi dalam kapasitas merawat.

Juga, Republik Serbia yang didominasi Serbia, wilayah otonom yang membentuk Bosnia bersama dengan federasi Kroasia dan kanton-kanton Muslim, telah menolak untuk menerima migran di wilayahnya.

Pada hari Jumat, polisi Bihac menggerebek beberapa rumah pribadi di mana hampir 300 migran ditampung dan memindahkan mereka ke tenda di bekas tempat pembuangan sampah di luar kota.

Badan-badan AS telah memperingatkan pihak berwenang terhadap relokasi, mengatakan situs itu tidak memadai dan terletak dekat dengan daerah-daerah dengan ranjau darat dari perang Bosnia pada 1990-an.

“Tidak ada fasilitas sanitasi yang tersedia di situs dan tidak ada akses ke air yang mengalir atau listrik. Dalam keadaan seperti ini, menemukan migran dan pengungsi di sana tidak dapat diterima, ”kata agen itu dalam pernyataan bersama.

Namun, tambahan 200 orang dipindahkan selama akhir pekan ke situs Vucjak, di mana Palang Merah setempat telah menyediakan tenda, tangki air, dan makanan.

Para migran, dalam rekaman di stasiun televisi regional, mengeluh tentang kondisi buruk di situs, menunjukkan ular yang mereka temukan di semak-semak sekitarnya.

"Kami tidak menentang para migran tetapi kami ingin mereka dirawat," kata Husnija Midzic, salah satu pengunjuk rasa Bihac.

“Saya takut perampokan dan masalah yang disebabkan oleh migran. Kami berada dalam ketakutan sepanjang waktu, mengawasi rumah kami, diri kami sendiri. ” (Reuters).

Jumat, 14 Juni 2019

Lagi, Satgas Pamtas Amankan Pembawa Paket Ganja di Perbatasan


INFONEWS.CO.ID ■ Personel Satuan Tugas Perbatasan (Satgas Pamtas) Yonif  PR 328 Kostrad terus melaksanakan upaya pencegahan terhadap peredaran barang-barang terlarang dengan rutin melaksanakan kegiatan sweeping di jalan-jalan utama perbatasan. Upaya ini berhasil setelah mengamankan seorang pemuda yang membawa 1 paket Ganja seberat 700 gram.

Dansatgas Pamtas Yonif PR 328 Kostrad, Mayor Inf Erwin Iswari, S.Sos., M.Tr (Han) mengatakan bahwa saat personel Pos Nafri yang dipimpin oleh Letda Inf A. Mukti melaksanakan sweeping di malam hari melihat sebuah pengendara berbalik arah saat melihat ada sweeping.

“Saat pengendara itu berputar, ada tim penutup Praka Robi dan Praka Burnawi yang berada di depan yang bertugas untuk menghentikan pengendara yang berbalik arah karena dicurigai membawa barang terlarang,” ujarnya.

Saat dilakukan pemeriksaan pelaku a.n. Andi Tenouye (20) sempat hendak melarikan diri dengan alasan ingin buang air kecil, namun personel dengan sigap menahan pelaku, dan saat dilakukan penggeledahan baik kendaraan maupun badan ditemukan 1 paket ganja seberat 700 gram di kantong saku celana nya,” jelas Mayor Inf Erwin.

Ditambahkan oleh Dansatgas, bahwa pelaku itu hanya menjadi perantara saja untuk membawakan ganja tersebut yang nantinya akan diserahkan kepada bandar.

“Untuk bandarnya sudah kami ketahui identitasnya, dan sekarang masih akan kami dalami lagi untuk dilakukan pengembangan.” pungkasnya.

■ Red/Penkostrad 

Selasa, 11 Juni 2019

Maruf Terdaftar Sebagai Pejabat BUMN Saat Pilpres 2019, BW: Jokowi-Maruf Harus Didiskualifikasi!


INFONEWS.CO.ID ■ Tim Hukum Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi telah mengajukan perbaikan berkas permohonan sengketa perkara hasil Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK). Salah satu bukti yang dibawa berupa Ma'ruf Amin yang masih menjabat di dua perusahaan BUMN.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Tim Hukum BPN Prabowo-Sandi, Bambang Widjojanto. Ia mengaku telah menyerahkan bukti yang dianggapnya dapat mendiskualifikasi pasangan Jokowi-Ma'ruf, berupa nama Maruf Amin yang ada di dua anak usaha BUMN yaitu PT BNI Syariah dan PT Bank Syariah Mandiri.

"Salah satu yang menarik, kami memasukkan salah satu argumen yang menurut kami, harus dipertimbangkan baik-baik. Karena ini bisa menyebabkan pasangan 01 itu didiskualifikasi," kata Widjojanto dalam siaran pers, Senin (10/6).

"Pasal 227 huruf P UU nomor 7 tahun 2017 menyatakan, seorang calon atau bakal calon dia harus menandatangani satu informasi atau keterangan, di mana dia tidak boleh lagi menjabat satu jabatan tertentu ketika dia sudah sah mencalonkan. Nah, menurut informasi yang kami miliki, Pak calon wakil presiden (Ma'ruf Amin), dalam laman BNI Syariah dan Mandiri Syariah, namanya masih ada, dan itu berarti melanggar pasal 227 huruf P," tambahnya.

Menurut Bambang, sejak awal pendaftaran sebagai Capres dan Cawapres, Ma'ruf Amin masih terdaftar sebagai Ketua Dewan Pengawas Syariah di dua Bank milik pemerintah tersebut.

"Karena seseorang yang menjadi calon presiden atau wakil presiden harus berhenti sebagai karyawan atau pejabat dari BUMN. Kami cek itu berulang kali dan kami memastikan dan meyakini kalau itu yang terjadi, ada pelanggaran yang sangat serius," paparnya.

Selain itu, Bambang juga membawa bukti-bukti pendukung lainnya seperti video, dokumen surat seperti forcm C1 yang diyakini merupakan sebuah pelanggaran atau kecurangan yang TSM (Terstruktur, Sistematis dan Masif).

"Dengan menggunakan posisinya sebagai presiden petahana, Paslon 01 menggunakan semua resources. Sepintas tampak biasa dilakukan berdasarkan hukum sehingga terkesan absah, akan tetapi bila dikaji lebih dalam terlihat tujuannya adalah mempengaruhi pemilih memenangkan Pilpres 2019," katanya.

Kecurangan yang dimaksud Bambang terdapat lima bentuk, yakni penyalahgunaan APBN dan program kerja Pemerintah, penyalahgunaan Birokrasi dan BUMN, adanya ketidak netralan Aparatur Negara yakni Polri dan Inteligen, adanya pembatasan kebebasan Pers dan diskriminasi terhadap penegakan hukum

"Kecurangan TSM adalah pelanggaran yang sangat prinsipil dan mendasar atas amanah pemilu jurdil sebagaimana diamanahkan berdasarkan pasal 22E ayat1 UUD 1945," terangnya.

Dalam bukti dokumen yang diserahkan Bambang akan memperkuat bukti-bukti adanya kecurangan yang telah dilakukan sejak sebelum Pilpres hingga setelah Pilpres.

"Pencurian dan penggelembungan suara dijalankan melalui DPT siluman, manipulasi dokumen C1 dan manipulasi entri data Situng. Dengan dokumen dan saksi yang kuat itu kami yakin akan memenangkan gugatan sengketa hasil Pilpres," pungkasnya.

sumber: rmol

Kamis, 30 Mei 2019

Kado Ramadhan, Satgas Pamtas Yonif Raider 301 Terima Penyerahan 11 Senjata Api dari Masyarakat


INFONEWS.CO.ID ■ Kegiatan Pembinaan Teritorial (Binter) Satgas Pamtas Yonif Raider 301/Prabu Kian Santang Kodam III/Siliwangi  yang bertugas di perbatasan RI-Malaysia membuahkan hasil.

"Selama bulan Ramadhan kami menerima penyerahan 11 pucuk senjata api dari masyarakat selama Bulan Ramadhan," kata Komandan Satgas Pamtas Yonif R 301/Prabu Kian Santang Letnan Kolonel Inf Andi Hasbulah di Pos Kotis Nanga Badau, Kecamatan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu, dalam keterangan yang diterima redaksi, Kamis(29/5/2019).

Andi mengatakan, penyerahan senjata ini terjadi karena Prajurit Satgas Pamtas terus menjalin hubungan yang baik bersama aparat lain dan juga masyarakat perbatasan khususnya.

Sehingga, imbuhnya, personel TNI mendapat apresiasi yang cukup baik dari masyarakat sekitar, dengan keberhasilannya melaksanakan komsos selama bulan puasa, Satgas Pamtas telah menghasilkan senjata rakitan dari berbagai pos di sepanjang perbatasan Malaysia-Indonesia (Kapuas Hulu).

"Penyerahan 11 pucuk senjata api ini dilakukan secara sukarela dari masyarakat yang sadar bahwa menyimpan senjata api tidak diperbolehkan karena sudah diatur oleh undang-undang tentang penggunaan senjata api, sekali pun itu senjata rakitan, juga dapat membahayakan," kata Andi.

Menurut Andi, selama tiga bulan dalam penugasan, satuannya telah menerima penyerahan 22 pucuk senjata api rakitan. Dari 11 pucuk yang telah diserahkan oleh masyarakat sebelumnya, maka 11 pucuk lagi diperoleh selama bulan Ramadhan ini.

"Saat ini puluhan pucuk senjata api yang diserahkan oleh warga telah diamankan di Markas Komando Taktis (KOTIS) Satgas Pamtas Yonif R 301/PKS, untuk dilaksanakan pengamanan terhadap barang illegal, dan nantinya akan dilaporkan kepada Komando atas," tuturnya.

Selain itu Dansatgas mengucapkan, maaf lahir bathin serta selamat merayakan hari kemenangan kepada para seluruh prajurit Satgas Pamtas Yonif R 301/PKS dan juga masyarakat yang berada di perbatasan khususnya bagi yang beragama Islam.

Ramadhan kali ini, telah menjadi berkah tersendiri bagi prajurit Yonif Raider 301/PKS karena dapat melaksanakan puasa didaerah penugasan Perbatasan RI-Malaysia.

"Walaupun tidak dapat melaksanakan puasa dan Lebaran bersama keluarga terdekat, namun semangat dan moril para prajurit tetap tinggi dan semangat dalam melaksanakan tugas. Kami bangga atas tugas yang diemban dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan rahmat, taufik dan hidayahnya kepada kita sekalian," pungkasnya. (rls)

Senin, 27 Mei 2019

Wanita Kediri Tewas Dibunuh dengan Luka Sayatan di Leher


INFONEWS.CO.ID ■ Seorang perempuan bernama Endang Widyawati, 42, ditemukan tak bernyawa dengan luka sayat pada bagian leher di sebuah rumah di Desa Nyawangan, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Polisi memastikan wanita tersebut korban pembunuhan.

Korban diketahui tinggal di rumah tersebut bersama sang suami Ahmad Zaeni, 45, dan putri semata wayang yang masih duduk dibangku SMA. Saat ditemukan, Endang dalam kondisi telentang di sebuah kamar dan mengenakan baju tidur warna putih.

Menurut tetangga korban, Jalil, 48, sekitar pukul 09.00 WIB dirinya diminta pihak keluarga untuk membuka pintu rumah korban dengan cara dicongkel. Keluarga curiga dengan kondisi rumah yang terkunci, namun sepeda motor korban berada di teras luar rumah.

Setelah pintu terbuka, Jalil dan keluarga kaget saat menemukan Endang Widyawati sudah tidak bernyawa dalam kondisi mengenaskan. Selanjutnya Jalil melaporkan kejadian tersebut kepada Polsek Kras.

"Saya tadi jam 09.00 WIB diminta keluarga membuka pintu dengan cara mencongkel, karena keluarga curiga dengan keadaan rumah. Saat berhasil masuk saya melihat Bu Endang sudah dalam kondisi bersimbah darah dan luka ada bagian leher," kata Jalil dilansir Detikcom, Senin (27/5/2019).

Usai mendapat laporan, Unit Olah TKP Satreskrim Polres Kediri mendatangi rumah korban di Desa Nyawangan. Olah TKP dipimpin langsung Kasatreskrim AKP Ambuka Yudha Hardi Putra.

Berdasarkan hasil olah TKP, Ambuka belum bisa berkomentar banyak.

"Berdasar kondisi jasad korban, diperkirakan meninggal kurang dari 12 jam," kata Ambuka, Senin.

Kemudian pihak kepolisian juga memastikan Endang sebagai korban pembunuhan.

"Ini kami pastikan korban merupakan korban pembunuhan, ditemukannya luka sayatan benda tajam," imbuh Ambuka.

Karena merupakan korban pembunuhan, anggota Reskrim Polres Kediri langsung melakukan penyelidikan secara intensif. Mereka memeriksa keluarga dan tetangga korban untuk mencari pelaku dan membongkar motif pembunuhan.

Sabtu, 18 Mei 2019

Jelang Pengumuman KPU, Kedubes AS Keluarkan Peringatan Keamanan


INFONEWS.CO.ID ■ Kedutaan Besar Amerika di Jakarta, Jumat (17/5) mengeluarkan peringatan keamanan terkait pengumuman Komisi Pemilihan Umum KPU tentang hasil pemilu serentak pada 22 Mei mendatang. Peringatan keamanan ini dikeluarkan untuk seluruh wilayah Indonesia.

Dalam situsnya, Kedutaan Besar Amerika di Jakarta mengatakan “pejabat-pejabat kepolisian Indonesia telah menyatakan secara terbuka peningkatan risiko terorisme terkait finalisasi hasil pemilu.” 

Kedutaan Besar Amerika di Jakarta, juga memperingatkan terus berlangsungnya demonstrasi terkait pemilu dan beberapa lokasi publik di pusat kota Jakarta, termasuk kantor KPU di Menteng dan Bawaslu di Jl. Thamrin. Demonstrasi juga diperkirakan akan terjadi di beberapa kota lain, seperti Surabaya dan Medan.

“Polisi mengatakan akan menempatkan personil keamanan tambahan di tempat-tempat terkait pemilu dan lokasi publik lain di Jakarta,” tulis pengumuman yang dirilis Jumat sore itu. Hal ini diperkirakan akan membuat terjadinya penutupan sejumlah jalan dan gangguan lalu lintas yang signifikan di lokasi-lokasi di mana terjadi demonstrasi.

Kedubes AS Ingatkan Warga Amerika untuk Jauhi Lokasi Demonstrasi.

Lebih jauh Kedutaan Besar Amerika di Jakarta mengingatkan warga Amerika untuk menghindari lokasi-lokasi di mana terjadi demonstrasi dan pawai politik dan “berhati-hati jika berada di sekitar lokasi tersebut.”

Warga Amerika juga diminta mengikuti pemberitaan di media tentang acara-acara lokal, mewaspadai lingkungan di sekitar dan senantiasa mempraktikkan kesadaran keamanan pribadi.

Mereka yang belum mendaftar di Smart Traveller Enrollment Program (STEP) untuk mendapat informasi keamanan, diserukan untuk segera mendaftar. Juga mengikuti informasi terkini yang disampaikan di jaringan sosial media Kedutaan Besar Amerika di Jakarta dan kantor konsulat di Surabaya.

Sejumlah nomor kontak juga disampaikan dalam peringatan keamanan ini. [VOA]

© Copyright 2018 INFONEWS.CO.ID | All Right Reserved